sampulanemiaaplastikANEMIA APLASTIK

Anemia aplastik merupakan penyakit yang cukup jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya pansitopenia dimana terjadi kondisi defisit sel darah pada jaringan tubuh. Biasanya hal ini juga dikaitkan dengan kurangnya jumlah sel induk pluripoten.

Selain kekurangan sel induk pluripoten, anemia aplastik juga dapat disebabkan defek pada limfosit helper, defisiensi regulator humoral atau selular, atau faktor-faktor lainnya. Umumnya pasien anemia aplastik yang mendapat terapi transplantasi sumsum tulang dari saudara kembar identik dapat sembuh dari penyakit mereka. Atau paling tidak, pasien mendapat transplantasi sumsum isogenik.

Pada kasus yang lain, anemia aplastik ini disebabkan oleh induksi obat atau induksi toxin yang dapat menyebabkan kerusakan sel induk. Sedangkan penyebab kasus lainnya adalah infeksi virus.

Kasus anemia aplastik ini sangat rendah pertahunnya. Kira-kira 2 – 5 kasus/juta penduduk/tahun. Dan umumnya penyakit ini bisa diderita semua umur. Meski termasuk jarang, tetapi penyakit ini tergolong penyakit yang berpotensi mengancam jiwa dan biasanya dapat menyebabkan kematian.

Klasifikasi dan Etiologi

Anemia aplastik biasanya disebabkan oleh dua faktor penyebab, yaitu faktor primer dan sekunder.

Secara sederhana anemia aplastik dapat diklasifikasi sebagai berikut.

  1. Penyebab Primer
    1. Idiopatik (paling banyak)
    2. Anemia Fanconi
    3. c. Dyskeratosis congenita
    4. Penyebab Sekunder
      1. Zat kimia
      2. Obat-obatan
      3. Infeksi
      4. Radiasi

Gangguan kongenital yang paling umum terjadi adalah anemia Fanconi. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak dan biasanya dikarenakan defek pada DNA Repair dan aplasia yang sering disertai kelainan rangka, pigmentasi pada kulit dan abnormalitas pada ginjal.

Pemaparan pada bahan-bahan kimia, obat-obatan dan radiasi juga dapat merusak sel induk. Obat-obatan dapat menekan hematopoiesis secara idiosinkratik ataupun secara terduga.

Obat-obatan yang dapat menyebabkan depresi pada sumsum tulang dapat dibagi dua:

  1. Sering atau selalu menyebabkan depresi sumsum tulang
    1. Sitostatika
    2. Kadang-kadang menyebabkan depresi sumsum tulang
      1. Antikonvulsan, misalnya: metilhidantoin
      2. Antibiotik, misalnya: kloramfenikol, sulfonamide, penicillin dan lain-lain
      3. Analgesik, misalnya: fenilbutazon
      4. Relaksan otot, misalnya: meprobamat

Obat seperti kloramfenikol diduga dapat menyebabkan anemia aplastik. Misalnya pemberian kloramfenikol pada bayi sejak berumur 2 – 3 bulan akan menyebabkan anemia aplastik setelah berumur 6 tahun.

America Medical Association juga telah membuat daftar obat-obat yang dapat menimbulkan anemia aplastik. Lihat tabel berikut.

Obat-obat yang sering dihubungkan dengan Anemia Aplastik

-          Azathioprine

-          Karbamazepine

-          Inhibitor carbonic anhydrase

-          Kloramfenikol

-          Ethosuksimide

-          Indomethasin

-          Imunoglobulin limfosit

-          Penisilamine

-          Probenesid

-          Quinacrine

-          Obat-obat sulfonamide

-          Sulfonilurea

-          Obat-obat thiazide

-          Trimethadione

Zat-zat kimia yang sering menjadi penyebab anemia aplastik misalnya benzen, arsen, insektisida, dan lain-lain. Zat-zat kimia tersebut biasanya terhirup ataupun terkena (secara kontak kulit) pada individu.

Radiasi juga dianggap sebagai penyebab anemia aplastik ini karena dapat mengakibatkan kerusakan pada stem cell atau sel induk ataupun menyebabkan kerusakan pada lingkungan sel induk. Contoh radiasi yang dimaksud antara lain pajanan sinar X yang berlebihan ataupun jatuhan radioaktif (misalnya dari ledakan bom nuklir).

Paparan oleh radiasi berenergi tinggi ataupun sedang  yang berlangsung lama dapat menyebabkan kegagalan sumsum tulang akut dan kronis maupun anemia aplastik. Terutama sel-sel germinal dan sel hematopoietik. Sel-sel tersebut merupakan sel yang paling mudah mengalami kerusakan tersebut.

Selain radiasi, infeksi juga dapat menyebabkan anemia aplastik. Misalnya seperti infeksi virus Hepatitis C, EBV, CMV, parvovirus, HIV, dengue dan lain-lain.

Dari semua faktor penyebab anemia aplastik diatas, faktor yang paling banyak terjadi ialah faktor idiopatik. Dimana penyebabnya anemia aplastik ini masih belum jelas.

.

Patofisiologi

Ada dua hal yang menjadi patofisiologi anemia aplastik.

  1. Kerusakan pada sel induk pluripoten

Gangguan pada sel induk pluripoten ini menjadi penyebab utama terjadinya anemia aplastik. Sel induk pluripoten yang mengalami gangguan gagal membentuk atau berkembang menjadi sel-sel darah yang baru.

Umumnya hal ini dikarenakan kurangnya jumlah sel induk pluripoten ataupun karena fungsinya yang menurun.

Penanganan yang tepat untuk individu anemia aplastik yang disebabkan oleh gangguan pada sel induk adalah terapi transplantasi sumsum tulang.

  1. Kerusakan pada microenvironment

Ditemukan gangguan pada mikrovaskuler, faktor humoral (misal eritropoietin) maupun bahan penghambat pertumbuhan sel. Hal ini mengakibatkan gagalnya jaringan sumsum tulang untuk berkembang.

Gangguan pada microenvironment merupakan kerusakan lingkungan sekitar sel induk pluripoten sehingga menyebabkan kehilangan kemampuan sel tersebut untuk berdiferensiasi menjadi sel-sel darah.

Selain itu pada beberapa penderita anemia aplastik ditemukan cell inhibitors atau penghambat pertumbuhan sel. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya limfosit T yang menghambat pertumbuhan sel-sel sumsum tulang.

Sampai saat ini, teori yang paling dianut sebagai penyebab anemia aplastik adalah gangguan pada sel induk pluri poten.

Gejala Klinik

Pada penderita anemia aplastik dapat ditemukan tiga gejala utama yaitu, anemia, trombositopenia, dan leukopenia. Ketiga gejala ini disertai dengan gejala-gejala lain yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

-       Anemia biasanya ditandai dengan pucat, mudah lelah, lemah, hilang selera makan, dan palpitasi.

-       Trombositopenia, misalnya: perdarahan gusi, epistaksis, petekia, ekimosa dan lain-lain.

-       Leukopenia ataupun granulositopenia, misalnya: infeksi.

Selain itu, hepatosplenomegali dan limfadenopati juga dapat ditemukan pada penderita anemia aplastik ini meski sangat jarang terjadi.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Ada dua jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis anemia aplastik, yaitu pemeriksaan fisis dan pemeriksaan laboratorium.

PEMERIKSAAN FISIS

Pada pemeriksaan fisis penderita anemia aplastik diperoleh:

-          Pucat

-          Perdarahan pada gusi, retina, hidung, dan kulit.

-          Tanda-tanda infeksi, misalnya demam.

-          Pembesaran hati (hepatomegali)

-          Tanda anemia Fanconi, yaitu bintik Café au lait dan postur tubuh yang pendek.

-          Tanda dyskeratosis congenita, yaitu jari-jari yang aneh dan leukoplakia.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

  • Darah Tepi
  • Granulosit           < 500 /mm3
  • Trombosit           < 20.000 /mm3
  • Retikulosit          < 1.0 % (atau bahkan hampir tidak ada)

Pada penderita anemia aplastik ditemukan kadar retikulosit yang sedikit atau bahkan tidak ditemukan. Sedangkan jumlah limfosit dapat normal atau sedikit menurun.

Dari ketiga kriteria darah tepi di atas, dapat ditentukan berat tidaknya suatu anemia aplastik yang diderita oleh pasien. Cukup dua dari tiga kriteria di atas terpenuhi, maka si individu sudah dapat digolongkan sebagai penderita anemia aplastik berat.

  • Sumsum Tulang
  • Hiposeluler        < 25%

Pemeriksaan sumsum tulang ini dilakukan pemeriksaan biopsi dan aspirasi.

Prognosis

Kondisi semakin buruk jika ditemukan:

-          Neutrofil     < 0.5 x 109

-          Platelet        < 20 x 109

-          Retikulosit  < 40 x 109

Sebelum era transplantasi sumsum tulang tulang, angka mortalitas sangatlah tinggi. Kira-kira 65% sampai 80%. Dengan adanya transplantasi sumsum tulang, angka mortalitas ini dapat dipastikan turun.

Transplantasi sumsum tulang ini sangatlah baik dilakukan bagi mereka yang berumur dibawah 25 tahun dan lebih baik lagi bila dilakukan pada anak-anak.

Penatalaksanaan

  • Terapi Suportif

Transfusi darah dan platelet sangat bermanfaat, namun harus digunakan dengan bijaksana dan baik karena dapat terjadi sensitisasi pada sel dan imunitas humoral pasien anemia aplastik. Bila terjadi hal yang demikian, donor diganti dengan yang cocok HLA-nya (orang tua atau saudara kandung).

  • Faktor-faktor pertumbuhan hematopoietik

Terapi dengan Growth factor sebenarnya tidak dapat memperbaiki kerusakan sel induk. Namun terapi ini masih dapat dijadikan pilihan terutama untuk pasien dengan infeksi berat.

Penggunaan G-CSF (granulocyte-colony stimulating factor) terbukti bermanfaat memulihkan neutrofil pada kasus neutropenia berat. Namun hal ini tidak berlangsung lama. G-CSF harus dikombinasikan dengan regimen lain misalnya ATG/CsA untuk mendapatkan hasil terapi yang lebih baik.

  • Transplantasi Sumsum Tulang (SCT, Stem Cell Transplantation)

Transplantasi sumsum tulang ini dapat dilakukan pada pasien anemia aplastik jika memiliki donor yang cocok HLA-nya (misalnya saudara kembar ataupun saudara kandung). Terapi ini sangat baik pada pasien yang masih anak-anak.

Transplantasi sumsum tulang ini dapat mencapai angka keberhasilan lebih dari 80% jika memiliki donor yang HLA-nya cocok. Namun angka ini dapat menurun bila pasien yang mendapat terapi semakin tua. Artinya, semakin meningkat umur, makin meningkat pula reaksi penolakan sumsum tulang donor. Kondisi ini biasa disebut GVHD atau graft-versus-host disease.

  • Terapi imunosupresif

Terapi imunosupresif dapat dijadikan pilihan bagi mereka yang menderita anemia aplastik. Terapi ini dilakukan dengan konsumsi obat-obatan. Obat-obat yang termasuk terapi imunosupresif ini antara lain antithymocyte globulin (ATG) atau antilymphocyte globulin (ALG), siklosporin A (CsA) dan Oxymethalone.

Regimen terbaik adalah kombinasi dari ATG dan siklosporin. Namun kedua obat ini juga dapat berpotensi toksik. ATG dapat memproduksi pyrexia, ruam dan hipotensi sedangkan  siklosporin dapat menyebabkan nefrotoksik dan hipertensi.

Oxymethalon juga memiliki efek samping diantaranya, retensi garam dan kerusakan hati.

Orang dewasa yang tidak mungkin lagi melakukan terapi transplantasi sumsum tulang, dapat melakukan terapi imunosupresif ini.

[Download ebook ini untuk mendapatkan tulisan yang lebih lengkap!]

Download Ebook Anemia Aplastik