Ikhtisar

Sindrom nefrotik merupakan penyakit ginjal yang ditandai dengan adanya proteinuria, hipoalbuminemia dan edema. Penyebabnya bermacam-macam. Dan penyebab-penyebab ini dapat digolongkan ke sebagai penyebab primer dan sekunder.

Penyebab primer sindrom Nefrotik antara lain:
-Minimal-change disease
-Focal glomerulosclerosis
-Membranous nephropathy
-Hereditary nephropathies

Sedangkan penyebab sekunder antara lain:
-Diabetes mellitus
-Lupus erythematosus (SLE)
-Amyloidosis and paraproteinemias
-Infeksi virus seperti Hepatitis B, Hepatitis C, HIV)

Patogenesis
Sindrom nefrotik ini terjadi dikarenakan meningkatnya permeabilitas glomerulus terhadap molekul-molekul besar. Sehingga hal ini mengakibatkan banyak molekul besar yang terfiltrasi. Protein dan albumin juga terfiltrasi karena gangguan pada glomerulus.

Proses normal filtrasi pada glomerulus melibatkan tiga lapisan yaitu lapisan endotel glomerulus yang memiliki banyak fenestra, lapisan membran basement glomerulus (MBG), dan podosit di lapisan dalam kapsul bowman. Normalnya hanya kurang dari 0.1% plasma albumin yang dapat terfiltrasi.

Mekanisme kerusakan pada struktur lapisan ini tergantung apa etiologi yang menyebabkan. Bisa jadi primer ataupun sekunder (seperti yang sudah dijelaskan dibagian Ikhtisar).

 

Gejala & Tanda

Dilihat dari fisik penderita sindrom nefrotik, edema merupakan tampilan utama yang paling signifikan. Edema terjadi hampir di seluruh tubuh atau disebut juga edema anasarka.

Gejala lain dari sindrom nefrotik ini antara lain anoreksia, malaise, dan urin berbusa akibat tingginya konsentrasi protein. Retensi cairan bisa jadi dapat mengakibatkan dyspnea, arthralgia, ataupun nyeri abdomen.

 

Diagnosis

Kriteria diagnostik untuk sindrom nefrotik antara lain:
Proteinuria lebih besar dari 3,5g/24 jam atau rasio protein dalam urin dengan creatinin dalam urin > 300 mg/mmol (spot urine).
Serum albumin < 25g/L
Adanya manifestasi klinis edema periferal
Hiperlipidemia berat (total kolesterol > 10 mmol/L)

 

Penatalaksanaan

Pengobatan yang diberikan antara lain kortikosteroid (prednisone), cyclophosphamide, dan cyclosporine untuk membantu remisi pada kasus sindrom nefrotik. Terkadang dibutuhkan juga diuretik seperti Furosemide (1 mg/kg/d) dan spironolactone (2 mg/kg/d) ketika dalam kondisi retensi cairan berat. Sedangkan untuk mengurangi proteinuria, dapat diberikan Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors and angiotensin II receptor blockers.

Pada kasus lain seperti pasien sering relapse, umumnya diberikan cyclophosphamide. Namun dapat menimbulkan komlikasi seperti penekanan sumsum tulang (bone marrow suppression), rambut rontok, azoospermia, sistitis hemoragik, keganasan, mutasi dan infertilitas.

Sementara penggunaan cyclosporine diberikan saat relapse terjadi kembali sesudah pemberian cyclophosphamide.

Pada beberapa kasus yang resisten terhadap prednison atau terjadi relapse sesudah pemberian kortikosteroid, maka dapat diberikan alternatifnya, yaitu rituximab.

Diuretik
Penggunaan diuretik pada kasus ini sangat lah perlu. Terutama untuk memulihkan kondisi penderita yang sudah sempat mengalami edema. Diuretik golongan Loop Diuretic misalnya Furosemide, tampaknya cukup sering digunakan pada penyakit ini.
Namun harus diperhatikan penggunaan diuretik dalam kasus ini. Pemulihan edema harus dengan perlahan-lahan, sebab jika dengan diuresis yang agresif dapat mengakibatkan ketidakseimbangan cairan, gagal ginjal akut dan thromboembolisme.

Immunosuppresant

Kortikosteroid atau contohnya seperti prednisone mampu menurunkan inflamasi dengan meningkatkan permeabilitas kapiler dan menekan aktivitas polymorphonuclear neutorphil (PMN). Obat ini dapat diberikan sebagai dosis tunggal pada pagi hari atau bisa juga sebagai dosis terbagi.

 

Foto


Sindrom Nefrotik


sindrom nefrotik

 

Referensi

Eric P Cohen, MD. Nephrotic Syndrome. Aug 23, 2011
MerckManuals. Nephrotic Syndrome.
Richard P Hull, David J A Goldsmith. Nephrotic syndrome in adults. May 2008

 
 

Kata kunci yang merujuk pada artikel ini:
patogenesis sindrom nefrotik