Ikhtisar

Ascaris lumbricoides merupakan cacing bulat besar yang biasanya bersarang dalam usus halus. Adanya cacing didalam usus penderita akan mengadakan gangguan keseimbangan fisiologi yang normal dalam usus, mengadakan iritasi setempat sehingga mengganggu gerakan peristaltik dan penyerapan makanan.

Cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar diseluruh dunia, lebih banyak di temukan di daerah beriklim panas dan lembab. Di beberapa daerah tropik derajat infeksi dapat mencapai 100% dari penduduk. Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak berusia 5 – 10 tahun.

Morfologi Parasit
Cacing betina dewasa mempunyai bentuk tubuh posterior yang membulat (conical), berwarna putih kemerah-merahan dan mempunyai ekor lurus tidak melengkung. Cacing betina mempunyai panjang 22 – 35 cm dan memiliki lebar 3 – 6 mm. Sementara cacing jantan dewasa mempunyai ukuran lebih kecil, dengan panjangnya 12 – 13 cm dan lebarnya 2 – 4 mm, juga mempunyai warna yang sama dengan cacing betina, tetapi mempunyai ekor yang melengkung kearah ventral.

Kepalanya mempunyai tiga bibir pada ujung anterior (bagian depan) dan mempunyai gigi-gigi kecil atau dentikel pada pinggirnya, bibirnya dapat ditutup atau dipanjangkan untuk memasukkan makanan.
Pada potongan melintang cacing mempunyai kutikulum tebal yang berdampingan dengan hipodermis dan menonjol kedalam rongga badan sebagai korda lateral. Sel otot somatik besar dan panjang dan terletak di hipodermis; gambaran histologinya merupakan sifat tipe polymyarincoelomyarin. Alat reproduksi dan saluran pencernaan mengapung didalam rongga badan, cacing jantan mempunyai dua buah spekulum yang dapat keluar dari kloaka dan pada cacing betina, vulva terbuka pada perbatasan sepertiga badan anterior dan tengah, bagian ini lebih kecil dan dikenal sebagai cincin kopulasi.

Telur yang di buahi (fertilized) berbentuk ovoid dengan ukuran 60-70 x 30-50 mikron. Bila baru dikeluarkan tidak infektif dan berisi satu sel tunggal. Sel ini dikelilingi suatu membran vitelin yang tipis untuk meningkatkan daya tahan telur cacing tersebut terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga dapat bertahan hidup sampai satu tahun. Di sekitar membran ini ada kulit bening dan tebal yang dikelilingi lagi oleh lapisan albuminoid yang permukaanya tidak teratur atau berdungkul (mamillation). Lapisan albuminoid ini kadang-kadang dilepaskan atau hilang oleh zat kimia yang menghasilkan telur tanpa kulit (decorticated). Didalam rongga usus, telur memperoleh warna kecoklatan dari pigmen empedu. Telur yang tidak dibuahi (unfertilized) berada dalam tinja, bentuk telur lebih lonjong dan mempunyai ukuran 88-94 x 40-44 mikron, memiliki dinding yang tipis, berwarna coklat dengan lapisan albuminoid yang kurang sempurna dan isinya tidak teratur.

Tabel Morfologi Ascaris lumbricoides
Cacing dewasa ?  Bentuk silindris
?  Kepala & ekor lancip
?  Kutikula bergaris-garis melintang
?  Mulut mempunyai 3 buah bibir, 1 dorsal-2 papil peraba, 2 ventrolateral 1 papil peraba
?  ? : panjang 15-31 cm, diameter 2-4 mm,ekor melingkar, memiliki 2 spikula
?  ? : panjang 22-35cm, diameter 3-6mm,ekor lurus, pada 1/3 bagian anterior memiliki cincin kopulasi, uterus 2/3 posterior
Telur ?  cacing betina mengandung ±27 juta telur dan mampu bertelur ±200.000 butir tiap harinya.
?  Berdasarkan jumlah lapisannya, terdapat 2 jenis telur:

  • Telur corticated : memiliki 3 lapisan, dari luar ke dalam :albumin,hyaline, vitteline
  • Telur decorticated : memiliki 2 lapisan, karena lapisan albumin terlepas

?  Telur fertile : ukuran ±60×45 mikron,oval,dinding tebal, corticated atau decorticated ,berisi embrio
?  Telur infertile : ukuran ±90×40 mikron, bentuk bulat lonjong atau tidak teratur, corticated atau decorticated, dalamnya bergranula
?  Telur fertile berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu 3 minggu
?  Telur berkembang baik pada tanah liat, kelembaban tinggi, dan suhu antara 250-300

Larva ?   Larva bentuk infektif menetas di usus halus
?  Larva memasuki siklus paru sebelum menetap di usus halus
Enam Tipe Telur Ascaris lumbricoides
Corticated fertilized egg

  1. Albumin layer present
  2. Contains egg cells
 
Decorticated fertilized egg
  1. Albumin layer absent
  2. Contains egg cells
 
Corticated unfertilized egg
  1. Albumin layer present
  2. Contains granules

 

 
Decorticated unfertilized egg:
  1. Albumin layer absent
  2. Contains granules

 

 
Corticated embryonated egg
  1. Albumin layer present
  2. Contains larva

 

 
Decorticated embryonated egg
  1. Albumin layer absent
  2. Contains larva

 

 

Siklus Hidup
Manusia merupakan satu-satunya hospes definitif Ascaris lumbricoides, jika tertelan telur yang infektif, maka didalam usus halus bagian atas telur akan pecah dan melepaskan larva infektif dan menembus dinding usus masuk kedalam vena porta hati yang kemudian bersama dengan aliran darah menuju jantung kanan dan selanjutnya melalui arteri pulmonalis ke paru-paru dengan masa migrasi berlangsung selama sekitar 15 hari.

Dalam paru-paru larva tumbuh dan berganti kulit sebanyak 2 kali, kemudian keluar dari kapiler, masuk ke alveolus dan seterusnya larva masuk sampai ke bronkus, trakhea, laring dan kemudian ke faring, berpindah ke osepagus dan tertelan melalui saliva atau merayap melalui epiglottis masuk kedalam traktus digestivus. Terakhir larva sampai kedalam usus halus bagian atas, larva berganti kulit lagi menjadi cacing dewasa. Umur cacing dewasa kira-kira satu tahun, dan kemudian keluar secara spontan.

Siklus hidup cacing ascaris mempunyai masa yang cukup panjang, dua bulan sejak infeksi pertama terjadi, seekor cacing betina mulai mampu mengeluarkan 200.000 – 250.000 butir telur setiap harinya, waktu yang diperlukan adalah 3 – 4 minggu untuk tumbuh menjadi bentuk infektif.
Menurut penelitian stadium ini merupakan stadium larva, dimana telur tersebut keluar bersama tinja manusia dan diluar akan mengalami perubahan dari stadium larva I sampai stadium III yang bersifat infektif. Telur-telur ini tahan terhadap berbagai desinfektan dan dapat tetap hidup bertahun-tahun di tempat yang lembab. Didaerah hiperendemik, anak-anak terkena infeksi secara terus-menerus sehingga jika beberapa cacing keluar, yang lain menjadi dewasa dan menggantikannya. Jumlah telur ascaris yang cukup besar dan dapat hidup selama beberapa tahun maka larvanya dapat tersebar dimanamana, menyebar melalui tanah, air, ataupun melalui binatang. Maka bila makanan atau minuman yang mengandung telur ascaris infektif masuk kedalam tubuh maka siklus hidup cacing akan berlanjut sehingga larva itu berubah menjadi cacing. Jadi larva cacing ascaris hanya dapat menginfeksi tubuh melalui makanan yang tidak dimasak ataupun melalui kontak langsung dengan kulit.

Penularan Ascariasis dapat terjadi melalui bebrapa jalan yaitu masuknya telur yang infektif kedalammulut bersama makanan atau minuman yang tercemar, tertelan telur melalui tangan yang kotor dan terhirupnya telur infektif bersama debu udara dimana telur infektif tersebut akan menetas pada saluran pernapasan bagian atas, untuk kemudian menembus pembuluh darah dan memasuki aliran darah

 

Gejala & Tanda

Ascaris lumbricoides menimbulkan gejala penyakit yang disebabkan oleh:

a. Larva: menimbulkan kerusakan pada paru-paru dalam menyebabkan “Loeffler Syndrome” dengan gejala: demam, batuk, infiltrasi paru-paru, edema, asma, leukositosis, dan eosinofilia.
b. Cacing dewasa: Penderitanya disebut askariasis. Penderita dengan infeksi ringan biasanya menjalani gejala gangguan usus ringan seperti: mual, nafsu makan berkurang, diare dan konstipasi. Pada infeksi berat pada anak-anak dapat terjadi malabsorpsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Dalam sehari seekor cacing dapat menghisap sekitar 0,14 gram karbohidrat dalam usus halus penderita.

Kelainan-kelainan yang terjadi pada tubuh penderita terjadi akibat pengaruh migrasi larva dan adanya cacing dewasa. Pada umumnya orang yang kena infeksi tidak menunjukkan gejala, tetapi dengan jumlah cacing yang cukup besar (hyperinfeksi) terutama pada anak-anak akan menimbulkan kekurangan gizi, selain itu cacing itu sendiri dapat mengeluarkan cairan tubuh yang menimbulkan reaksi toksik sehingga terjadi gejala seperti demam typhoid yang disertai dengan tanda alergi seperti urtikaria, odema diwajah, konjungtivitis dan iritasi pernapasan bagian atas.

Cacing dewasa dapat pula menimbulkan berbagai akibat mekanik seperti obstruksi usus, perforasi ulkus diusus. Oleh karena adanya migrasi cacing ke organ-organ misalnya ke lambung, oesophagus, mulut, hidung dan bronkus dapat menyumbat pernapasan penderita. Ada kalanya askariasis menimbulkan manifestasi berat dan gawat dalam beberapa keadaan sebagai berikut :
1. Bila sejumlah besar cacing menggumpal menjadi suatu bolus yang menyumbat rongga usus dan menyebabkan gejala abdomen akut.
2. Pada migrasi ektopik dapat menyebabkan masuknya cacing kedalam apendiks, saluran empedu (duktus choledocus) dan ductus pankreatikus.
Bila cacing masuk ke dalam saluran empedu, terjadi kolik yang berat disusul kolangitis supuratif dan abses multiple. Peradangan terjadi karena desintegrasi cacing yang terjebak dan infeksi sekunder. Desintegrasi betina menyebabkan dilepaskannya telur dalam jumlah yang besar yang dapat dikenali dalam pemeriksaan histologi. Untuk menegakkan diagnosis pasti harus ditemukan cacing dewasa dalam tinja atau muntahan penderita dan telur cacing dengan bentuk yang khas dapat dijumpai dalam tinja atau didalam cairan empedu penderita melalui pemeriksaan mikroskopik

 

Diagnosis

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan larva dalam sputum atau bilas lambung. Diagnosis dapat ditegakkan dengan menemukan telur dan cacing dewasa dalam tinja. telur cacing dapat ditemukan dengan mudah pada sediaan basah langsung atau sediaan basah dari sedimen yang sudah dikonsentrasikan. cacing dewasa dapat ditemukan dengan pemberian antelmintik atau keluar dengan sendirinya melalui mulut karena muntah atau melalui anus bersama dengan tinja.

 

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan untuk infeksi askariasis bisa dengan pemberian obat.
• Pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal (maksimal 1 gram)
• Mebendazol 500 mg dosis tunggal atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut (untuk semua umur)
• Albendazol 400 mg dosis tunggal oral (untuk semua umur), tetapi tidak boleh digunakan selama hamil.
• Piperazin citrate 150 mg/kg dosis awal, diikuti dengan 6 dosis 65 mg/kg setiap 12 jam.
• Pada kasus obstruksi partial, beberapa ahli menyarankan terapi alternative dengan Piperazine citrate, yang menyebabkan neuromuscular paralisis (melumpuhkan) cacing dan ekspulsi dari cacing. Biasanya tersedia dalam sirup dan diberikan melalui NGT. Namun perlu diingat Piperazine dan Pyrantel pamoat bekerja saling berlawanan (antagonist) dan jangan diberikan bersamaan.
• Untuk kasus obstruksi mungkin diperlukan rawat inap. Operasi laparotomy mungkin diperlukan untuk kasus obstruksi yang berat.
 

Foto


 

Referensi


Ascaris lumbricoides, http://emedicine.medscape.com/article/788398-overview
 
 

Kata kunci yang merujuk pada halaman ini:
hospes definitif ascaris

Share on Facebook: Share