Anak-anak memang senang sekali bermain? Memang benar! Tingkah laku mereka yang sangat aktif sering membuat fraktur/patah pada gigi khususnya di bagian depan. Penyebab fraktur/patah yang paling banyak terjadi dimana saja baik di rumah maupun di luar rumah misalnya terjatuh ketika berlari, menggigit sesuatu, terbentur dinding, terpukul oleh temannya, dsb.

Fraktur/patah pada gigi anak didefenisikan suatu kejadian yang tidak terduga atau suatu penyebab sakit karena kontak yang keras dengan suatu benda. Menurut penelitian, fraktur/patahnya pada gigi depan sering terjadi karena anak-anak mempunyai kebebasan dan gerak yang cukup luas, sementara koordinasi dan penilaiannya dengan keadaannya belum cukup baik sehingga sering terjatuh dan mengakibatkan gigi fraktur/patah.
Gigi anak memiliki tulang alveolar dan jaringan pendukung yang belum sempurna, selain itu gigi anak mempunyai enamel dan ketebalan dentin yang tipis dibandingkan dengan gigi permanen dewasa, hal ini juga yang menyebabkan gigi anak mudah fraktur/patah akibat benturan.

Trauma pada gigi depan anak dapat terjadi langsung dan tidak langsung. Trauma gigi secara langsung terjadi ketika benda keras langsung mengenai gigi. Trauma gigi tidak langsung terjadi ketika benturan yang mengenai dagu menyebabkan gigi rahang bawah membentur gigi rahang atas dengan kekuatan atau tekanan besar dan tiba-tiba.

APA PERAWATAN YANG TEPAT?
Jawabannya adalah resin komposit? kenapa?

Benar sekali..kalau perawatan yang terbaik untuk gigi depan anak harus benar-benar kuat dan estetis. Hasil perawatan yang estetis tentu akan menambah percaya diri pada anak. Untuk itu, pasien harus tahu bahan restorasi yang terbaik untuk gigi depan. Saat ini bahan restorasi yang terbaik untuk gigi depan adalah resin komposit, khususnya tipe nano filler. Resin komposit dipilih karena bahannya sewarna dengan warna gigi yang membentuk matriks, filler, coupling agent, penghambat polimerisasi, penyerap UV, opacifier dan pigmen warna.

a) Bahan utama/Matriks resin
Kebanyakan resin komposit menggunakan campuran monomer aromatic dan atau aliphatic dimetacrylate seperti bisphenol A glycidyl methacrylate (BIS-GMA), selain itu juga banyak dipakai adalah tryethylene glycol dimethacrylate (TEGDMA), dan urethane dimethacrylate (UDMA) adalah dimethacrylate yang umum digunakan dalam komposit gigi.

Perkembangan bahan restorasi kedokteran gigi (komposit) dimulai dari akhir tahun 1950-an dan awal 1960, ketika Bowen memulai percobaan untuk memperkuat resin epoksi dengan partikel bahan pengisi. Kelemahan sistem epoksi, seperti lamanya pengerasan dan kecenderungan perubahan warna, mendorong Bowen mengkombinasikan keunggulan epoksi (CH-O-CH2) dan akrilat (CH2=CHCOO-). Percobaan-percobaan ini menghasilkan pengembangan molekul BIS-GMA. Molekul tersebut memenuhi persyaratan matrik resin suatu komposit gigi.

BIS-GMA memiliki viskositas yang tinggi sehingga membutuhkan tambahan cairan dari dimethacrylate lain yang memiliki viskositas rendah yaitu TEGDMA untuk menghasilkan cairan resin yang dapat diisi secara maksimal dengan partikel glass. Sifatnya yang lain yaitu sulit melakukan sintesa antara struktur molekul yang alami dan kurang melekat dengan baik terhadap struktur gigi

b) Filler/pengisi
Dikenali sebagai filler inorganik. Filler inorganik mengisi 70 persen dari berat material. Beberapa jenis filler yang sering dijumpai adalah berbentuk manik-manik kaca dan batang, partikel seramik seperti quartz (SiO2), litium-aluminium silikat (Li2O.Al2O3.4SiO2) dan kaca barium (BaO) yang ditambahkan untuk membuat komposit menjadi radiopak.

Ukuran partikel yang sering dipakai berkisar antara 4 hingga 15m. Partikel yang dikategorikan berukuran besar sehingga mencapai 60m pernah digunakan tetapi permukaan tumpatan akan menjadi kasar sehingga mengganggu kenyamanan pasien.

Bentuk dari partikel juga terbukti penting karena manik-manik bulat sering terlepas dari material mengakibatkan permukaan menjadi aus. Bentuk filler yang tidak beraturan mempunyai permukaan yang lebih baik dan tersedia untuk bonding dan dapat dipertahankan di dalam resin

Penambahan partikel filler dapat memperbaiki sifat resin komposit:
i. Lebih sedikit jumlah resin, pengerutan sewaktu curing dapat dikurangi
ii. Mengurangkan penyerapan cairan dan koefisien ekspansi termal
iii. Memperbaiki sifat mekanis seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan dan resisten terhadap abrasi

c) Coupling agent
Komponen penting yang terdapat pada komposit resin yang banyak dipergunakan pada saat ini adalah coupling agent. Resin akrilik yang awal digunakan tidak berfungsi dengan baik karena ikatan antara matriks dan filler adalah tidak kuat. Melapiskan partikel filler dengan coupling agent contohnya vinyl silane memperkuat ikatan antara filler dan matriks.

Coupling agent memperkuat ikatan antara filler dan matriks resin dengan cara bereaksi secara khemis dengan keduanya. Ini membolehkan lebih banyak matriks resin memindahkan tekanan kepada partikel filler yang lebih kaku. Kegunaan coupling agent tidak hanya untuk memperbaiki sifat khemis dari komposit tetapi juga meminimalisasi kehilangan awal dari partikel filler diakibatkan dari penetrasi oleh cairan diantara resin dan filler.

Fungsi bagi coupling agent adalah:
i. Memperbaiki sifat fisik dan mekanis dari resin
ii. Mencegah cairan dari penetrasi kedalam filler-resin

Struktur komposit dapat terlihat pada gambar

Gambar 1: Struktur komposit dengan matriks resin filler dan coupling agent.

d) Bahan penghambat polimerisasi
Merupakan penghambat bagi terjadinya polimerisasi dini. Monomer dimethacrylate dapat berpolimerisasi selama penyimpanan maka dibutuhkan bahan penghambat (inhibitor). Sebagai inhibitor, sering digunakan hydroquinone, tetapi bahan yang sering digunakan pada saat ini adalah monometyhl ether hydroquinone.

e) Penyerap ultraviolet (UV)
Ini bertujuan meminimalkan perobahan warna karena proses oksidasi. Camphorquinone dan 9-fluorenone sering dipergunakan sebagai penyerap UV.

f) Opacifiers
Tujuan bagi penambahan opacifiers adalah untuk memastikan resin komposit terlihat di dalam sinar-X. Bahan yang sering dipergunakan adalah titanium dioksida dan aluminium dioksida.

g) Pigmen warna
Bertujuan agar warna resin komposit menyamai warna gigi geligi asli. Zat warna yang biasa dipergunakan adalah ferric oxide, cadmium black, mercuric sulfide, dan lain-lain.

Perawatan dengan resin komposit memiliki tahapan yang dimulai dari : mengisolasi daerah sekitar gigi depan anak dari benda-benda asing seperti darah, air ludah, dan sisa makanan, membuang jaringan karies pada gigi bila ada dengan bur, membuat bevel atau membentuk kontur gigi depan dengan bur berbentuk flane / tappered diamond, membersihkan kavitas dengan semprotan air, mengeringkan kavitas dengan kapas. Setelah kavitas kering, kavitas dietsa kemudian dicuci dan keringkan, setelah itu mengoleskan bahan resin komposit dan lakukan penyinaran selama 15-20 detik dengan alat sinar. Bahan restorasi yang sudah jadi, siap untuk dipolish supaya mengkilap.

KESIMPULAN
Resin komposit saat ini pilihan terbaik dalam urusan estetis gigi depan. Gigi depan yang bagus akan meningkatkan kepercayaan diri anak. Namun, tentu ada kekurangan yaitu jika bahan bagus tetapi tahapan-tahapan tidak sesuai prosedur, maka hasilnya akan jelek. So, tetap saja skill dokter gigi sangat berperan penting pada perawatan.