Definisi DM
Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan hormon insulin secara absolut maupun relatif (Tjokroprawiro, 2006)

Diabetes disebut juga gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika telah berkembang penuh secara klinis maka diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, aterosklerotik dan penyakit vaskuler mikroangiopati dan neuropati. Manifestasi klinis hiperglikemia biasanya sudah bertahun-tahun mendahului kelainan klinis dari penyakit vaskularnya. Pasien dengan kelainan toleransi glukosa ringan (gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa) dapat tetap beresiko mengalami komplikasi metabolik diabetes (David, 2006).

Klasifikasi DM

Beberapa klasifikasi diabetes telah diperkenalkan. Empat klasifikasi diabetes: (1) diabetes mellitus tipe 1, (2) diabetes mellitus tipe 2, (3) Diabetes mellitus gestasional (kehamilan) (4) diabetes mellitus tipe lain. Diabetes tipe 1 dulu dikenal sebagai tipe juvenile onset dan tipe dependen insulin, namun kedua tipe ini dapat muncul pada sembarang usia. Insiden diabetes tipe 1 sebanyak 30.000 kasus baru setiap tahunnya, dan dapat dibagi kedalam dua subtipe : (a) autoimun akibat disfungsi autoimun dengan kerusakan sel-sel beta, dan (b) idiopatik, tanpa bukti adanya autoimun dan tidak diketahui sumbernya. Sub tipe ini lebih sering muncul pada etnik keturunan Afrika-Amerika dan Asia (Tjokroprawiro, 2006).

Diabetes tipe 2 dulu dikenal sebagai tipe dewasa atau tipe onset maturitas dan tipe non dependen insulin. Insidens diabetes tipe 2 sebesar 650.000 kasus baru setiap tahunnya. Obesitas sering dikaitkan dengan penyakit ini. Diabetes gestasional dikenali pertama kali selama kehamilan dan mempengaruhi 4% dari semua kehamilan. Tipe khusus lain adalah: (a) kelainan genetik pada sel beta, (b) kelainan genetik pada kerja insulin, (c) penyakit pada eksokrin pankreas, (d) penyakit chusing sindrom dan akromegali, (e) obat-obat yang bersifat toksik terhadap sel beta, dan (f) adanya infeksi (David,2006).

Diagnosis dan Manajemen Nutrisi

Pada tahun 1979 The National Diabetes Data Group (NDDG) di Amerika menetapkan kriteria diagnostik untuk diabetes. Kriteria ini diperbaiki pada tahun 1997. Salah satu kriterianya adalah kadar glukosa darah sewaktu >200 mg/dl disertai dengan gejala-gejala hiperglikemia seperti polidipsi, poliuri, polifagi, fatique, pandangan kabur dan berat badan menurun. Kriteria diagnostik lainnya adalah kadar gula darah puasa <126 mg/dl atau kadar gula darah 2 jam setelah makan <200 mg/dl (Sukmaniah,2000).

Tahap-tahap penatalaksanaan diabetes mellitus adalah:
1. Anamnesis

Dilakukan anamnesa data pasien, meliputi:
-Gejala-gelaja hiperglikemia (poliuria, polidipsia, polifagia)
-Kebiasaan makan
-Anggota keluarga yang menderita DM
-Anamnesa komplikasi

2. Pemeriksaan laboratorium

-Glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan
-Darah lengkap, pH darah
-HbA1c
-Profil lipid, rasio HCL : LDL
-Keton urin dan plasma
-Fungsi ginjal : ureum, kretinin
-Elektrolit : K, Na, Cl, Ca, Mg
-Phosphat

3. Pemeriksan fisik klinis
-Pemeriksaan klinik : keadaan umum, tekanan darah, denyut nadi, -pernafasan, suhu tubuh, status dehidrasi.
-Antropometri : BB, TB, IMT, distribusi lemak tubuh.

4. Pemeriksaan tambahan
-EKG
-Analisa gas darah : bila DM disertai komplikasi.

5. Diagnosis
Penentuan diagnosis medis dan diagnosis gizi.

6. Manajemen nutrisi
Rencana pengaturan diet pada pasien diabetes mellitus dimaksudkan untuk mengatur jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari. Tujuan diet diabetes mellitus adalah untuk membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan dan olahraga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, dengan cara:
Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin.
Mencapai dan mempertahankan kadar lipid serum normal.
Memberi cukup energi untuk mempertahankan dan mencapai berat badan normal.
Menghindari atau menangani kompklikasi akut pasien yang mengunakan insulin seperti hipoglikemia, komplikasi jangka pendek, dan jangka lama serta masalah yang berhubungan dengan latihan jasmani.
Meningkatkan derajad kesehatan secara keseluruhan melalui zat gizi optimal.

Rekomendasi diet meliputi:
Tahap 1:
Tentukan kebutuhan energi total sehari. Kebutuhan Energi total sehari harus dihitung sesuai usia, aktifitas, keadaan fisiologik, dan berdasarkan berat badan.

Tahap 2 :
Tentukan komposisi diet seimbang. Umumnya terdiri dari 60-65% karbohidrat, 15-20% protein dan 20-25% lemak dengan lemak jenuh kurang dari 10%, lemak tak jenuh ganda sampai 10%, sisanya lemak tak jenuh tunggal. Kolesterol <300 mg. Pada penderita diabetes dengan kelainan fungsi organ (misalnya diabetes nefropati) komposisi diet khususnya protein harus disesuaikan dengan tingkat gangguan fungsi organ tersebut. Jenis karbohidrat dipertimbangkan. Efek mono dan disakarida terhadap gula darah, tergantung dari jumlah yang dikonsumsi dan sifat bahan makanan lain yang dikonsumsi dalam waktu yang sama. Sukrosa, menurut pendapat sekarang (sepanjang tidak meningkatkan gula darah) dapat diberikan. Karbohidrat kompleks diberikan 20-25 g/ 1000 kkal. Susunan diet harus cukup vitamin dan mineral.

Tahap 3:
Menterjemahkan semua perhitungan zat gizi kedalam bahan makanan dan menentukan distribusinya dalam porsi makanan dan snack. Jadwal makan disuaikan dengan jadwal makan sesuai denagn jadwal pemberian insulin atau obat hipoglikemik.

Tahap 4 :
Evaluasi asupan makanan dan kebiasan makan.

Share on Facebook: Share