Baik anak-anak maupun orang dewasa dapat menderita penyakit ITP. Biasanya penderita penyakit ini mengeluhkan luka berdarah mereka yang sulit membeku. Mengapa demikian?

APA ITU “ITP”?
Idiopathic Thrombocytopenia Purpura (ITP) atau istilah lainnya Immune Thrombocytopenia Purpura merupakan sindrom klinik dimana terjadi penurunan jumlah trombosit di sirkulasi darah. ITP dapat dibagi menjadi dua yaitu ITP akut dan ITP kronis. ITP akut biasanya disertai dengan infeksi akut dan akan sembuh dalam waktu 2 bulan. Yang membedakan antara ITP akut dan ITP kronis adalah lama penyakitnya. ITP akut bila kejadiannya kurang dari atau sama dengan 6 bulan sedangkan ITP kronis jika lama penyakitnya lebih dari 6 bulan. ITP akut lebih sering dijumpai pada anak-anak dan jarang pada orang dewasa. Sebaliknya ITP kronis lebih sering diderita oleh orang dewasa.
Jumlah penderita pria dan wanita sebenarnya sama saja tidak jauh beda. Pada anak-anak, anak laki-laki lebih banyak menderita ITP dibanding dengan anak perempuan. Sementara pada orang dewasa, wanita lebih banyak menderita ITP daripada pria.
Insiden ITP akut pada anak mencakup 4 – 5,3 per 100.000 dalam setahun. Sekitar 7 – 28% anak-anak dengan ITP akut berkembang menjadi ITP kronik. Sedangkan ITP kronis anak kira-kira 0.46 per 100.000 per tahun. Sementara kasus ITP kronik dewasa sekitar 5,8-6,6 per 100.000 per tahun.

APA SAJA YANG MENJADI GEJALA DAN TANDA “ITP”?
Ada banyak sekali yang menjadi gejala dan tanda dari penyakit ITP, di antaranya:
-perdarahan gusi
-mudah memar
-perdarahan dari hidung
-purpura (perdarahan kecil di dalam kulit)
-petekia (bintik merah kecil)
-perdarahan saluran pencernaan
-menometrorrhagia (perdarahan dari uterus yang berlebihan)
Akibat kurangnya jumlah trombosit darah tidak dapat dibekukan.

LALU, APA SAJA YANG MENJADI PENYEBAB “ITP”?
Terjadinya penyakit ITP dikarenakan adanya autoantibodi IgG pada permukaan trombosit. Antibodi-antibodi ini menyelimuti trombosit sehingga menyebabkan masa hidup trombosit lebih singkat di dalam sirkulasi darah.
Dalam hal ini limpa memiliki peran besar sebab limpa sendiri lah yang menghasilkan autoantibodi yang dimaksudkan di atas (di pulpa putih limpa). Dan di limpa juga tempat fagositosis trombosit yang telah terselimuti-autoantibodi (di pulpa merah limpa).
Ini sebabnya mengapa terjadi trombositopenia pada ITP padahal keadaan sumsum tulang normal. Trombositopenia pada ITP terjadi diakibatkan proses imun bukan karena adanya gangguan pada sumsum tulang (seperti anemia aplastik).

KALAU BEGITU TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK “ITP”?

Terapi utama yang dapat diberikan untuk pasien ITP adalah kortikosteroid dan imunoglobulin intravena (IVIg). Petunjuk penggunaan, dosis dan cara pemberian tergantung kondisi pasien, jumlah platelet, dan derajat atau tingkat gejala. Konsultasi dengan ahli hematologi merupakan tindakan awal yang seharusnya dilakukan.
Terapi lain yang bisa dilakukan adalah splenektomi (pengangkatan limpa). Terapi ini dilakukan setelah terapi steroid atau jika terapi steroid gagal.
Inti dari terapi untuk ITP adalah menjaga kadar trombosit yang aman agar terhindar dari perdarahan mayor.
Bagi anak-anak yang menderita ITP akut, biasanya tidak perlu mendapatkan terapi. Karena mereka berpeluang dapat pulih secara spontan.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI PENYAKIT INI?
Yang menjadi komplikasi dari penyakit ITP ini antara lain:
-Perdarahan intrakranial (pada kepala). Ini penyebab utama kematian penderita ITP.
-Kehilangan darah yang luar biasa
-Efek samping dari kortikosteroid
-infeksi pneumococcal. Infeksi ini biasanya didapat setelah pasien mendapat terapi splenektomi. Si penderita juga umumnya akan mengalami demam sekitar 38.80C.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH “ITP”?
Karena penyebab langsung ITP masih belum dapat dipastikan maka pencegahan terhadap ITP pun masih belum jelas. Tetapi setidaknya ada cara atau gaya hidup yang bisa dilakukan oleh penderita ITP agar dapat hidup sebagaimana orang normal lainnya. Salah satunya menghindari kegiatan-kegiatan keras yang berisiko menyebabkan luka perdarahan. Supaya tidak memperburuk kondisi pasien ITP saja.

SUMBER REFERENSI:
?Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 659 – 664.
?Silverman, Michael A. MD. (January 2009). “Idiopathic Thrombocytopenic Purpura”. http://www.emedicine.com
?Sandler, S. Gerald. MD. FACP. FACP. (October 2009). “Immune Thrombocytopenic Purpura”. http://www.emedicine.com
?Bakta, I Made, Prof. Dr. “Hematologi Klinik Ringkas”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006: 241 – 243.

Samuel Pola Karta Sembiring
FK Universitas Sumatera Utara
Karta_morphic@yahoo.co.id
http://www.morphostlab.com

Share on Facebook: Share