Istilah kanker servik (cervical cancer ) ataupun kanker leher rahim bukanlah suatu yang asing lagi bagi kita. Penyakit kanker servik merupakan pembunuh nomor 1 pada wanita. Umumnya, penyakit ini sulit dideteksi pada stadium awal.
Bagaimana sebenarnya kanker servik itu?

Apa itu kanker servik?
Kanker servik (kanker leher rahim ) adalah kanker yang terjadi pada daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim yang terletak antara rahim (uterus ) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur.
Kanker servik berkembang secara bertahap , tetapi progresif. Proses terjadinya kanker ini dimulai dengan sel yang mengalami mutasi lalu berkembang menjadi sel diplastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut dengan displasia. Dimulai dari displasia ringan, sedang, berat karsinoma insitu ( KIS ), dan kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia dan KIS sering juga disebut sebagai prakanker. Biasanya, pada kondisi prakanker sering tidak menunjukan gejala.

Apa saja gejala dari kanker servik?
Biasanya pada stadium awal kanker leher rahim sulit dideteksi, karena pada tahap prakanker, tidak ada keluhan yang dirasakan oleh penderita. Namun, menginjak stadium IA-IIIB, keluhan mulai muncul, seperti keluarnya darah ketika berhubungan seks, keputihan yang semakin lama berbau busuk, berat badan yang terus menurun, timbulnya pendarahan setelah menopause, rasa nyeri pada daerah genetalia, timbulnya nyeri panggul (pelvis ),dan anemia (karena pendarahan yang sering timbul ). Sedangkan pada stadium IV B sel kanker sudah menjalar ke otak dan paru-paru. Pada tahap awal atau prakanker, tidak ada gejala khas.

Hal apa saja yang menyebabkan kanker servik?
Faktor – faktor resiko terkenanya kanker serviks kebanyakan berasal dari faktor luar (eksternal ), diantaranya :
• Melakukan hubungan seksual pada usia masi muda ( kurang dari 16 tahun ).
• Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi dan sering berganti-ganti pasangan.
• Kebersihan genetalia yang buruk.
• Wanita yang merokok.
• Riwayat penyakit kelamin seperti herpes dan kutil genetalia.
• Semakin tinggi resiko pada wanita yang banyak anak, apalagi dengan jarak persalinan yang dekat.
• Defisiensi zat gizi. Defisiensi asam folat dapat meningkatkan resiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (A)
• Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi dan iritasi.
Penyebab kanker serviks ini sendiri adalah penularan virus HPV tipe 16, 18, 31.

Bisakah diobati?
Jika perubahan awal telah diketahui sedini mungkin ( dysplasia ) maka pengobatan yang umum diberikan adalah :
• Pemanasan, yaitu dengan diathermy atau dengan sinar laser.
• Cone biopsy, yaitu mengambil sedikit dari sel-sel leher rahim, termaksud sel yang mengalami perubahan. Tindakan ini ditujukan untuk pemeriksaan yang lebih teliti terhadap sel –sel yang mengalami perubahan.
Jika pejalanan penyakit telah sampai pada tahap pra kanker dan kanker serviks telah diidentifikasikan, maka untuk penyembuhan dapat dilakukan :
• Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker.
Jika kanker berada masih berada pada stadium 1 A maka operasi yang dilakukan adalah operasi sederhana yang disebut konisasi ( pemotongan rahim seperti kerucut) pada stadium 1 B sampai 2B, tindakan yang dapat dilakukan adalah histerektomi radikal.
• Radioterapi dengan menggunakan sinar X, terapi ini diberikan jika kanker serviks sudah berada pada stadium 2B keatas. Akan tetapi pengobatan dengan penyinaran ini dapat memberikan kompilikasi, yaitu: indung telur ikut mati karena sinar radiasi, organ tubuh lain seperti dubur dan saluran kencing juga terkena sinar radiasi dan vagina menjadi kaku ketika berhubungan seks.
• Kemoterapi , cara ini dilakukan ketika operasi dan radioterapi tidak dapat dilakukan lagi.

Bagaimana cara mencegahnya?

- Pemeriksaan teratur. Untuk wanita dewasa yang melakukan hubungan seks secara teratur, lakukan pap smear test setiap 2 tahun. Ini dilakukan sampai berusia 70 tahun.
- Waspadai gejalanya.
- Hindari merokok.
- Hindarkan pemakaian antiseptik.
- Hindari pemakaian bedak (talek).
- Cegah dengan imunisasi HPV.

By: Sonya Arih Mehuli Ginting